Blanes, Spain (by Sergey DM)
Aku ngetik ini ketika masih tanggal 21 Mei 2013 ya walaupun ngepostnya udah tanggal 22 Mei 2013. Just for your information…
Jadi tepat seminggu yang lalu, 14 Mei 2013, saat terpenting and most precious moment in my life happened. Apa itu ris? Yes, I finally confessed my feeling for him. Akhirnya aku bilang ke dia kalau aku punya perasaan ‘lebih’ yang sangat besar sama dia. Face to face. Only the two of us.
Aku sama sekali nggak menyangka momen itu akan datang secepat itu. Aku punya timeline kalau aku bakal bilang ke dia pas dia lulus/wisuda jadi biar pas udah lega semuanya, baru deh aku bilang ke dia kalau yeah…I do have feeling for you. A special feeling. A big one. But he ruined my timeline just like that and indirectly forced me to said those words and sentences. But I’m happy. I’m so happy that I finally said the truth about my feeling for him.
Finally, I confessed :)
Kenapa aku bilang most precious moment? Okay, ini bukan pertama kalinya aku ngaku suka sama orang. Ini yang kedua kalinya. Yang pertama kali itu waktu aku ngaku suka sama sahabat aku dan itu amat-sangat-tidak-pantas untuk diingat karena…yah begitulah. Waktu itu aku masih SMA dan tau lah ya anak SMA gimana labilnya. Ya pokoknya gitu deh. Dan kemudian, ini. Kedua kalinya aku confess my special feeling for someone special. Dan di luar dugaan aku, semua berjalan dengan baik dan lancar, bahkan jauh dari yang aku bayangkan.
Aku nggak akan pernah lupa malam itu. Ketika awalnya kita ngomongin soal kerjaan dan kemudian aku pamit mau pulang. He stopped me. “Eh Ris tunggu.”, “Apa?”, “Satu hal lagi, kamu kenapa sih Ris?” dan setelah itu butterflies flies in my stomach. Setelah kebingungan mau jawab apa dan mencoba ngeles tapi nggak bisa akhirnya I told him, everything. Kenapa aku marah, kenapa aku sedih, kenapa aku kesel, dan kenapa aku bisa ngerasa kecewa. I told him the reasons.
And he said sorry. That’s enough. Terlepas dari dia orang terbaik di dunia yang kebaikannya melebihi batas kewajaran manusia, dia berusaha keras untuk bertanya duluan dan minta maaf. Itu bukan hal yang gampang untuk dilakukan tau, apalagi dengan keadaan dimana aku punya perasaan yang bertepuk sebelah tangan sama dia. Dia berani melakukan itu dan I really appreciate it. Thank you very much for everything :)
Kita berdua ngobrol (kalo geteknya sih ya) dari hati ke hati. Malem-malem, di atas jam setengah 7 sampai jam setengah 10. Awalnya di tangga terus pindah ke kanopi biru. Sebelahan. Dan angin dingin berhembus. Tapi aku ga merasa dingin karena percakapan kita bikin suasana jadi hangat. EDAN GETEK BANGET LAH MENI GEULEUH tapi gimana dong itu yang aku rasain :( masa ya aku harus bohong ha ha ha. Inget bagian ini? Aku bilang ke dia soal ini dan dia mengerti, bahwa terkadang kita merasa banyak hal yang terlalu getek untuk diucapkan dan jatohnya malah bikin geuleuh tapi kita ga bisa berbuat apapun ataupun menyangkal bahwa hal yang getek dan bikin geuleuh itu adalah kejujuran.
Banyak banget hal yang kita bicarakan malam itu. Kekurangan dan kelebihan masing-masing. Apa yang harus diperhatikan dan diperbaiki dari kekurangan-kekurangan itu. Bagaimana cara mengatasi kekurangan masing-masing. Dan kita berdua mengungkapkan pikiran masing-masing tentang masalah yang terjadi.
Pasti kepikiran kan apa respon dia?
Aku cuma bisa bilang, I confessed, not asked him to be mine. Itu dua hal yang berbeda banget loh. Dan dia bilang kalau dia bahagia, bahagia dalam artian bersyukur bahwa masih ada orang yang sepeduli dan seperhatian ini sama dia. Dan itu aja juga udah bikin aku bahagia loh.
Keesokan harinya aku nggak sedih, aku nggak nangis, yang ada cuma bahagia dan lega. Karena akhirnya ada kejelasan dan kepastian dari semua ketidakjelasan dan kepastian yang menghantui selama dua tahun ini. Aku jadi lebih mengerti tentang dia and so did he. Aku dapet banyak pembelajaran tentang bagaimana mengerti tentang perasaan seseorang and so did he.
Temen aku sempet bilang kalau aku itu aneh dan ga normal. I’m supposed to be sad but I’m not. Aku juga nggak tau kenapa tapi aku ya…..bahagia. Proses sih ya. Ini semua proses dan dalam proses inilah banyak hal-hal berharga yang harus dijaga dan diingat. Proses inilah yang terpenting karena ya dalam proses ini kita belajar kan?
Setelah malam itu aku sempet mikir, apa nanti kita jadi awkward ya? Apa kita malah jadi ga nyaman satu sama lain? Dan aku khawatir banget itu bakal terjadi. Kenapa? Ya karena selama aku hidup, setiap ada kejadian kayak gini, mau di kehidupan nyata atau di komik pun pasti bakal ada awkward feeling satu sama lain.
Tapi kita nggak.
Keesokan harinya kita ketemu, kita ngobrol, kita bercanda. Kita nggak menghindari pandangan satu sama lain, kita ga menghindari pertemuan satu sama lain. Aku nggak tau kenapa dan ini yang bikin aku lebih bahagia lagi. Bahwa bahkan setelah pembicaraan itu, dia masih sama seperti yang dulu. Dia ga berubah. Dia tetap baik dan bersikap biasa aja. Dan aku yakin dia pun berusaha keras untuk itu. Aku nggak mau menyia-nyiakan semua usaha dia dan karena itu aku pun biasa aja sama dia. Keesokan harinya lagi kita biasa aja. Keesokan harinya pun begitu. Dan besoknya dan besoknya dan besoknya.
Dan aku menyebut malam itu sebagai malam ‘understand each other’s feeling’.
That was the sweetest moment ever happened in my 19 years of life.
Once again, thank you very much for giving me this experience. Thank you so much for being exist in this world. Thank you so much for understanding my childish side. Thank you so much for the precious moment. Thank you so much for asked me and said sorry. Thank you so much for the lessons. Thank you so much for being grateful about my feeling for you. Thank you so much for being kind. Thank you so much for being the apple of my eye.
And just for your information, I can’t stop loving you. Because you’re the one who make me learn about precious things and lessons about life. You may not realize this but you’re the one. Without you, I won’t have this precious lessons.
Once again, thank you for that night. Thank you :)
Ketua : Baginda P. P.
Sekum : Carrisa Ghassini
Sekretaris 2 : Ananda S. M.
Bendahara 1 : Indah P.
Bendahara 2 : Pertiwi
Divisi Acara
Koor : Greaty Fitraharani
Nezar Ibrahim
Muhammad Rizky
Jamal Baziad
Amanda Rizqi
Muhammad…
I called it “understand each other’s feeling”.
Such a miracle. I know this is so damn cheesy but this is the truth. I know you’re understand :) Thank you for growing me up tonight. Thank you thank you thank you. Thank you for being such a kind person to me, to other people. Thank you thank you thank you. Your parents must be proud of you. Thank you for fixing my broken heart. Thank you for bringing my smile and dimple back. Thank you for bringing my laugh back. Thank you for apologizing to me. Just…thank you. Thank you so much. And sorry. Sorry for making you feeling guilty. Sorry for making you worried. Sorry for bothering your mind for a while. Sorry for making you sad.
You really are the apple of my eye.
Aku nggak pernah bersikap berbeda tanpa alasan. Sebodoh apapun alasan itu, pasti ada alasan. NOTE THAT!
Manda, Fira, and Aul gave this super duper cute doll as my birthday present. Jeongmal kamsahamnida uri saranghaneun chingudeul :”D
Why people expect me to be an angel while I’m just a super-and-extra-ordinary human? I can’t be angry? Annoyed? Whining? Oh just shut up. You don’t know what I’ve been through. Shut your fucking mouth up and live your own life while I live mine.
I was re-reading my birthday post with the title, “Best Birthday Ever!”, and I was re-calling my feelings that day. I was smiled, grinned, laughed, ans squealed excitedly. Now I smiled bitterly, bit my lip and hold my own tears. I told myself…
“Ris, pas kamu lagi seneng, ketawa, nyengir, mesem-mesem bahagia kayak gini, people looked at you in sadness. Because they knew that your happiness wasn’t real.”
I’m sad because of that. Because of the fact that my happiness that day wasn’t REAL. And now I’m asking my own self…
“Jadi, jangan-kangan kebahagiaan yang selama ini aku rasain palsu juga sama kayak yang kemarin? Jadi selama ini aku nggak pernah benar-benar bahagia?”
What a pity.